Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Viral Ambisi Wijaya Ngentot Tante Birahi
Biodataviral.com - Setahun setelah Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit, kerajaan raksasa Mongolia mengalami keruntuhan dimana pasukannya dikalahkan diseluruh dunia. Puluhan kerajaan baru bangkit dan berlomba untuk menjadi yang terkuat. Salah satunya adalah kerajaan Ming dari China yang berhasil menjajah kembali negeri Mongolia serta menciptakan kekuatan yang ditakuti diseluruh kawasan Asia timur maupun Asia tengah. Raden Wijaya sebagai penguasa negeri terkuat di Asia tenggara diundang oleh Kaisar Cu Len Zhang dari kerajaan Ming untuk menghadiri pesta besar atas keberhasilannya dalam membangun kembali negeri China yang kuat.
Raden Wijaya ditemani oleh jendral besar Chen Mien dan dua ratus tentara karena Chen Mien lebih mengenal situasi daerah di negeri China dibanding denga siapapun juga. Sedangkan kerajaan Majapahit sendiri dijaga oleh tangan kiri Raden Wijaya, jendral Suwongso. Setelah rombongan Raden Wijaya tiba di pelabuhan Nanjing, ia disambut oleh panglima Lee dengan hormat. Raden Wijaya dibawa ke kota Ce Jing Zhen atau disebut juga kota terlarang (kota ini sekarang menjadi Beijing). Terlihatlah sebuah istana yang sangat besar dan menyerupai sebuah kota. Saat pintu gerbang dibuka terlihatlah rumah-rumah besar. Saat itu juga banyak rombongan lain yang tiba seperti rombongan dari negeri Korea, Jepang, India, Persia, Thailand, Burma, Annam (negeri Vietnam dulu), Srilanka, dan Tibet.
Pada malam harinya pesta pun dirayakan. Banyak penari cantik dipanggil untuk menari dengan selendang tipis dan setengah tembus pandang. Arak dan makanan dihidangkan. Para tamu berpesta sampai lupa waktu. Sebagian tamu berdiri dan ikut menari bersama para penari itu. Selain cantik, para penari itu mempunyai tubuh yang elok, dan hanya memakai selendang sutra tipis, buah dada mereka terlihat menonjol besar dan ada bayangan pentil payudara. Garis pantat pun terlihat sedikit.
Setelah lama berpesta akhirnya para tamu kembali ke kamar masing-masing. Pada keesokan harinya diadakanlah negoisasi damai antar negara. Kerajaan Korea, Burma, Annam, India, Thailand dan Tibet menyatakan kesetujuan mereka untuk mengakui kerajaan Ming sebagai kerajaan yang terkuat dan mereka akan memberi upeti berupa sandang dan pangan setiap tahunnya. Sedangkan kerajaan Persia dan Jepang menyatakan untuk melupakan dendam lama antar negara dan menjadi sahabat baik negeri Ming. Sedangkan untuk kerajaan Majapahit, Kaisar Cu Len Zhang sendiri menawarkan Raden Wijaya untuk menjadi sekutunya dalam menghadapi musuh. Raden Wijaya menyetujuinya dan membuka hubungan dagang antar negara. Keesokan harinya para tamu semua pulang ke negeri masing-masing.
Terkait
Pada saat Raden Wijaya tiba di pelabuhan Nanjing hari sudah gelap, maka ia menunda kepulangannya dan berniat untuk menetap di pelabuhan itu semalam. Panglima Lee sendiri memohon pamit dan kembali ke posnya sendiri. Malam pun tiba, Raden Wijaya dijamu dengan makanan terkenal di negeri Ming pada waktu itu yaitu Bebek Pe King. Setelah selesai menghabiskan bebek panggang. Raden Wijaya kembali ke kamarnya untuk tidur sedangkan jendral Chen Mien memesan sebuah rangkaian kerangka dari besi besar dan tiga wanita cantik untuk menari tarian erotis didalamnya. Lanjut baca!
Cerita Sex Teori konspirasi 3 – Sang dalang
Tradingan.com - Markas Polisi Pusat, Jalan Tanah Abang 13
Dua minggu lewat sudah setelah kasus pencurian berlian Kohinoor dari museum nasional. Inspektur polisi yang baru, kolonel Budi, nampak berada di kantornya yang baru. Koran dan majalah menumpuk di atas mejanya. Semuanya memiliki berita utama yang berkaitan dengan pencurian berlian Kohinoor.
Kompas: Pencuri berlian Kohinoor ditemukan tewas
“M, petugas kafetaria museum nasional, yang menghilang dan buron sejak terjadinya pencurian berlian Kohinoor ditemukan tewas terbunuh di sebuah kamar hotel berbintang. Di dalam pipa toilet kamar mandi, ditemukan dokumen dalam keadaan rusak berat. Berkat keahlian pihak kepolisian, dokumen tersebut bisa diidentifikasikan sebagai tiket pesawat menuju ke sebuah negara di daerah segitiga emas, paspor, dan surat-surat keterangan perjalanan. Diduga pencuri berlian yang naas itu dibunuh oleh teman atau atasannya sendiri yang kemudian mengambil berlian milik raja Nepal tersebut. Bersamanya juga ditemukan tewas seorang gadis yang diduga adalah perempuan panggilan kelas tinggi. Peluru-peluru yang menewaskan keduanya berasal dari senjata laras pendek yang biasa dijumpai di pasar gelap..”
Suara Pembaruan: Tragedi Brigadir Jenderal Purnawirawan Ahmad
“Sejak meninggalnya istri yang dicintainya dua tahun lalu, Kolonel kemudian Brigadir Jenderal Purnawirawan Ahmad selalu berada dalam situasi yang menyulitkan. Inspektur polisi yang terkenal jujur ini sudah lama berangan-angan memberantas praktek gelap mafia di negara ini. Belum usai dengan tugasnya, posisinya kembali terancam bahkan akhirnya terguling dengan skandal pencurian berlian Kohinoor dua minggu yang lalu. Jenderal purnawirawan Ahmad diberitakan meninggalkan ibu kota untuk mengunjungi satu-satunya puteranya yang bertugas sebagai dokter di sebuah desa kecil di Timor Barat. Selanjutnya, beliau merencanakan untuk menikmati masa pensiunnya di tempat yang jauh. Jauh dari semuanya yang mengingatkannya ke tragedi beruntun yang dialaminya..”
Pikiran Rakyat: Di mana berlian Kohinoor sekarang?
“Meskipun buron utama pencurian berlian Kohinoor telah ditemukan tewas, berlian yang konon berharga lebih dari empat ratus pesawat jumbo jet itu masih belum ditemukan. Ada banyak spekulasi yang mengatakan tentang adanya keterlibatan kelompok mafia yang berasal dari dalam negeri. Namun spekulasi lain mengatakan bahwa sebenarnya konspirasi pihak mafia internasional yang mendalangi semuanya ini. Jika benar demikian, pantas untuk dikhawatirkan bahwa berlian Kohinoor sudah tidak berada di negara ini lagi, mengingat bahwa transportasi laut antar perbatasan praktis tak lagi terkontrol. Sebuah sumber mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sedang menjalin kemungkinan kerja sama kepolisian atau bahkan militer dengan negara-negara lain di asia tenggara guna memperoleh kembali berlian tersebut..”
Terkait
Pos Kota: Tewas setelah mendapat kenikmatan sekali seumur hidup
“M, penjaga kafetaria museum nasional, buron utama pencurian berlian Kohinoor ditemukan tewas di sebuah kamar hotel mewah di ibu kota. Badannya ditemukan menelungkup di atas badan mahasiswi cantik berbadan tinggi montok serta putih mulus. Keduanya tewas dalam keadaan telanjang setelah selesai melakukan hubungan intim. Ini dibuktikan oleh visum dokter rumah sakit tentara yang menemukan cairan mani yang masih segar di dalam tubuh mahasiswi tersebut. Seperti diberitakan oleh pihak kepolisian, keduanya tewas oleh lima buah peluru yang ditembakkan dari jarak dekat. Sebuah sumber menspekulasikan bahwa pembunuh berdarah dingin tersebut sempat menonton permainan ranjang temannya sampai selesai. Diberinya temannya kesempatan guna mendapat kenikmatan sekali seumur hidup sebelum akhirnya nyawanya dihabisi. Tidak ‘terlalu’ jahat rupanya..” Lanjut baca!
Cerita Dewasa Teori konspirasi 2 – Para pion
Aopok.com - Markas Kelompok Mafia Naga Hijau
“Benar-benar goblok kamu!”, maki seseorang berbadan gendut.
Siapa lagi kalau bukan A Hong, konglomerat kaya sekaligus bos mafia Naga Hijau tingkat nasional. Obat bius, perek, dan judi, semua dikuasainya. Tangan kanannya memegang sebuah rotan panjang.
“Ampun Bos”, teriak seorang pria yang terduduk di lantai ketakutan.
Pria tersebut adalah pria yang mengenakan sepatu lars tadi. Kedua tangan dan lengannya membiru memar bekas pukulan. Dari hidungnya menetes darah segar.
“Bukan salah saya, Bos”, katanya kesakitan.
“Sudahlah Bos”, kata seorang pria yang lain.
Pak Tom panggilannya. Dia adalah si sopir mobil merah metalik.
“Ini adalah konspirasi tingkat tinggi”, katanya membela temannya.
“Maksudmu, si bangsat jenderal pensiunan itu?”, tukas si Bos dengan nada tinggi.
“Siapa lagi Bos, kalau bukan dia?”, jawab si sopir sambil menolong temannya berdiri.
“Ada satu orang lagi”, kata seorang pria tua yang berdiri di sudut.
“Teratai Biru”, jawab si engkong kalem.
“Aku barusaja dapet info, itu tuh dari temenmu si polisi. Ini mafia dari daerah segitiga emas yang terkenal dengan transaksi gelap barang-barang berharga”, katanya sambil menghisap cerutu mahal buatan Kuba.
“Ini memang spesialisasi mereka”, tambahnya lagi.
“Begini teoriku..”, katanya lagi sambil berdiri.
“Si jenderal nyuruh seseorang buat ngambil berlian waktu alarm udah mati. Itu waktu Bejo ada di kamar mandi”, katanya sambil melotot ke arah pria bersepatu lars bernama Bejo yang nampak bersalah.
“Naa, Teratai Biru juga punya orang suruhan yang nunggu Bejo di luar. Ndak dapet juga dia, soalnya kan Bejo ndak punya berliannya. Si maling yang beneran, masih nunggu dalem gedung dan baru keluar setelah semuanya aman”
Semua orang yang ada di ruangan itu benar-benar kagum dengan ketajaman otak si engkong yang telah berumur sembilan puluh tahun itu.
“Mungkin juga bisa kebalik skenarionya”, jelasnya lagi.
“Orangnya Teratai Biru yang ngambil, satunya lagi orangnya jenderal. Pokoknya ini permainan segitiga. Aku ndak bisa lihat siapa lagi yang berani dan mampu ikut-ikutan selain kelompok kita, jenderal, dan Teratai Biru. Ini pencurian tingkat tinggi. Liat, koneksinya ke pihak kepolisian. Belum lagi resikonya. Lagian, liat itu timingnya, gimana mereka bisa tahu? Yang jelas, kita sudah berada di pihak yang kalah”, katanya sambil melemparkan sisa cerutunya ke lantai.
Terkait
“Terus kita harus gimana Kong”, tanya si Bos.
“Ada dua hal”, kata si engkong tegas.
“Periksa semua jalur telepon dan sistem telekom punya kita. Aku pengin tau apa ada yang menyadap. Aku percaya orang-orang kita semua setia. Kecuali kalo ada yang mulai berani macam-macam”, katanya pasti.
“Kedua, telepon cepat itu polisi, bilang aja apa adanya. Kita atur rencana selanjutnya nanti saja”, kata sang godfather tegas.
“Baik Kong”, jawab A Hong dan segera keluar dari ruangan.
Si engkong duduk di kursi sambil mengambil dan menyalakan sebuah cerutu yang baru. Lanjut baca!
Kisah Seks Teori konspirasi 1 – Insiden di Museum
Tradingan.com - Museum Nasional Tommy Soeharto, Selasa 16.55
Museum nampak lengang. Sepeda motor bebek hitam milik satpam yang bertugas siang hari baru saja meninggalkan kompleks museum. Satpam pengganti nampak hendak menutup pintu gerbang, ketika entah dari mana asalnya, muncul dua orang gadis cantik.
“Bisa pinjam teleponnya Pak? Mobil kami mogok..”, tanya gadis yang berambut ikal.
Satpam yang berbadan pendek itu tampak bengong. Perasaannya mengatakan bahwa tidak ada mobil mogok di dekat daerah ini.
“Bisa nggak Pak?”, tanya gadis itu lagi.
“Iya, iya Non”, jawabnya tanpa mampu berkonsentrasi.
Maklumlah, keduanya benar-benar mirip bintang film hongkong yang sering dilihatnya di bioskop murahan Pasar Senin.
Pintu depan gedung museum sudah tertutup rapat. Mereka bertiga menuju ke bagian samping gedung.
“Mogoknya di mana Non?”, tanya si satpam sambil melirik ke dada montok berlapis baju kaos tersebut.
Rok ketat di atas lututnya membungkus pinggul yang bundar serta menampakkan belahan betisnya yang putih mulus. “Sebelah sana”, jawab gadis yang satunya lagi dengan sembarangan.
Gadis berambut lurus itu mengenakan baju tanpa lengan dan celana panjang ketat. Tidak terlalu tinggi posturnya namun langsing badannya. Satpam yang rambutnya sudah mulai memutih itu menelan ludah.
“Kagak montok sih, tapi buah dada sama pinggulnya lumayan padet”, pikirnya.
Walaupun umurnya sudah cukup tua, tapi masih suka barang jorok juga dia rupanya.
Dalam ruang petugas keamanan, dua orang petugas satpam yang lain tampak terkejut dan segera bangkit dari kursinya melihat kedatangan dua orang gadis cantik itu. Sementara gadis yang berambut ikal sedang sibuk memakai telepon, Alfon, satpam asal Irian yang berambut keriting memperkenalkan diri. Badannya kekar, berumur sekitar empat puluhan. Rupanya dia adalah satpam kepala. Gadis yang berambut lurus tersebut mengaku mahasiswi Fakultas Ekonomi di sebuah universitas swasta.
“Kalau temen saya itu di fakultas sospol”, ujarnya memperkenalkan temannya.
Dengan pandangan mata yang menelanjangi, Alfon pun memperkenalkan kedua satpam temannya. Slamet yang berumur sembilan belas tahun dan bertampang cukup tampan, Bambang yang bertubuh pendek dan berambut ubanan.
“Eh, maap keliru, kebalik”, katanya konyol.
“Ini Slamet, yang ini Bambang”, koreksinya.
Terkait
Tak bisa berkonsentrasi dia rupanya. Maklumlah, gadis yang berdiri di depannya benar-benar mirip bintang film Hongkong yang sering dilihatnya di bioskop murahan Pasar Senin itu.
Sementara itu, seseorang bersepatu lars berjalan mengendap-endap memasuki balairung (ruang utama) museum. Diarahkannya pandangan matanya ke jendela besar ruang petugas keamanan yang menghadap ke ruang utama. Rupanya pria tersebut bermata elang. Jarak dari tempatnya berdiri hingga ke ruang petugas keamanan ada berjarak sekitar dua puluh meteran. Tak ada halangan baginya untuk memastikan bahwa kedua gadis cantik dan ketiga satpam tersebut sedang berbincang-bincang. Cukup terang memang, lampu dalam ruang tersebut. Lanjut baca!
Sex Stories The Sad Love Story
Aopok.com - Kamar itu gelap. Sinar bulan tampak menyentuh kisi-kisi jendela kamar kecil itu. Membayangkan silhouette tubuh yang meringkuk di sudut kamar. Rena menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan lengannya yang memeluk lutut-lututnya. Bahunya yang bergerak-gerak menandakan bahwa gadis kecil itu sedang menangis. Rena mengangkat kepalanya, mengutuk sinar bulan yang menerpa wajahnya yang ternoda jejak-jejak air mata dalam hatinya. ‘Bagaimana aku bisa memaafkan dia..’
“Rene.. ah.. Rene..” mulutnya berbisik setengah terbuka. Buliran air mata jatuh melewati pipinya menetesi lengannya. Gagang telepon di sebelahnya memperdengarkan nada sibuk. Rena memasukkan lagi kepalanya dalam dekapan kakinya, dan bahunya kembali bergerak-gerak.
Sepuluh kilometer jauhnya, waktu yang sama.
Rene membanting C35-nya ke lantai, memandangi sejenak serpihan- serpihan mesin itu berpencaran ke segala arah. Rene menjambak rambutnya dengan kesepuluh jemarinya. Gila.. semua gila, batinnya dalam hati.
‘Rena.. bangsat! Cintaku.. aku..’
Rene menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya, matanya merawang menatap langit- langit kamarnya. Melamunkan wajah gadis kecil itu dalam dekapannya.. yang beralih menjadi bayangan api kemarahan dan kesedihan yang terpancar dari nada suara gadis yang beberapa menit lalu masih bercakap-cakap dengannya. Rene menutup matanya dengan lengan kanannya, bahkan ia masih memiliki sedikit rasa malu kepada kamar kesayangannya, untuk melihatnya meneteskan air mata.
Somewhere, lantai dua, waktu yang sama.
Rina mengeraskan suara walkman-nya. Membiarkan lantunan musik kesayangannya memenuhi rongga telinganya. Tangannya bergerak membuka lembaran-lembaran literatur dihadapannya.
‘Ah, aku harus belajar giat supaya cepat lulus.. lalu..’
Matanya memandang ke bingkai foto di atas meja disamping tempat tidurnya. Tangannya mengambil bingkai foto itu, dan bibirnya mencium wajah cowok yang sedang tersenyum kepadanya lewat foto di hadapannya. Cup.. cup.. Rina mencium foto itu berulang-ulang, membayangkan kehangatan cowok itu saat memeluknya, menciumnya, mencumbunya.. belajar.. belajar.. Rina mengingatkan dirinya sendiri sebelum tangannya mulai gatal.
Dua purnama yang lalu.
Cowok yang hanya mengenakan kaus oblong itu terlihat sibuk membersihkan mobilnya. Tangannya menggosok permukaan mobil itu dengan cermat, sesekali menyeka peluh yang keluar dari dahi dan pelipisnya.
‘Ah.. panas sekali’, umpatnya dalam hati.
Rene meraih selang yang tergolek di sebelah kakinya, bangkit berdiri dan menekan knob penyemprot di tangannya. Dicobanya untuk mengarahkan air itu ke wajahnya, ahh.. segarnya. Dibilasnya mobil itu dengan hati-hati, memastikan semua kotorannya luluh ke jalan. Mendadak telinganya menangkap suara bertubruknya sesuatu. Matanya mencari-cari, sementara tangannya yang memegang selang tetap mengarahkan semprotan air ke mobilnya.
Terkait
Setengah jam sebelumnya.
“Kaak.. mana.. katanya mau ngajak aku jalan-jalan?”, suara gadis ABG itu terdengar manja dan memaksa.
Gadis yang lebih tua berkata dangan malas, “Sekarang? Tanggung nih..”.
Remote TV itu masih dalam genggamannya.
“Kaakk..!!” Rena memegang pundak kakaknya, merayu-rayu supaya kakaknya bersedia mengatakan janjinya.
“Iyaa.. udah sono!” Rina tertawa geli melihat kelakuan adiknya yang manja.
‘Yah beginilah’, pikirnya, jika hanya punya adik semata wayang, yang sangat kebetulan manja dan pemaksa. Lanjut baca!
Tukang Pijat Jadi Pelampiasn Aku dan Istri 3
Iklans.com - Duh.. Den, istriku saja nggak mau macam Aden gini.. Duh, enak bangett.. Sseehh.,” dia meracau.
Ludahku membuat ketiak itu kuyup. Dan asin keringat ketiak yang larut dalam ludah itu kuambil kembali melalui isepan dan sedotan bibir dan lidahku.
“Amppuunn.. Deenn…” rintih nikmat Kang Saridjo.
Kulakukan sama pula pada sebelah ketiak lainnya. Kutinggalkan bekas kecupan pada dadanya. Aku benar-benar seperti kadal yang bergerak menggeliat-geliat merambah dada hingga perut Kang Saridjo.
Saat aku mencium dan melumati perutnya yang macam papan cuci karena otot-ototnya yang bergumpalan tanganku mulai merambahi pinggul dan turun mengarah ke bokongnya. Kemudian saat ciumanku tenggelam ke arah selangkangannya tangan-tanganku melepaskan jari-jarinya untuk merabai celah bukit bokongnya. Ini sensasi baru lagi bagi Kang Saridjo.
Jari-jariku dengan halus merabai pembuangan tainya. Kurasakan bulu-bulu lebat menutupi bibir duburnya. Saat jari-jariku mulai mendesak bibir dubur itu, teriakan kecil Kang Saridjo terdengar, “Ad.. Dden..!! Acchh…” itu pertanda kenikmatan baru menerjang dia. Kang Saridjo tentu tidak mengelak. Bahkan dia mengangkat sedikit bokong dan pahanya untuk memberi jalan lebih terbuka bagi jari-jariku untuk bermain pada lubang tainya itu. Bagiku juga sungguh membakar nafsu. Saat jari-jari berusaha menusuk lubang duburnya terasa sesak, kukulum dulu jari-jariku untuk mendapatkan basah ludahku. Sepintas aroma dubur Kang Saridjo menerpa hidungku.
Akhirnya Kang Saridjo benar-benar melipat kakinya hingga pahanya nempel ke dadanya. Aku dari arah bawah merangkaki dan menindih nyungsep di selangkangannya. Aku semakin menggila menjilati kontol Kang Saridjo. Batang dan kepalanya yang terus mendapatkan lumatan dari lidah dan bibirku terus mengalirkan deras precum-nya mengasinkan lidahku.
Artikel Terkait
Ketika aku mulai mengulum biji-biji pelirnya, jari tanganku sudah mulai menembusi duburnya.
“Acchh.. Achh… Deenn.. Acch…” suara itu sungguh semakin merangsang nafsu seksualku.
Setiap terasa agak sesek jariku kukulum untuk membasahkan pakai ludahku. Setiap kali semen dubur Kang Saridjo yang terbawa jari-jariku kujilat dan kurasakan sepatnya. Ketika jari-jariku mulai keluar masuk lubang itu Kang Saridjo terus merintih kenikmatan.
“Deenn… Adenn.. Ampun Denn.. Enak Den.. Teruzz ddeenn..” Lanjut baca!
Tukang AC Jadi Pelampiasn Aku dan Istri 2
Biodataviral.com - Sambil bibir melumati dadanya, tangan-tanganku pelan merosotkan celana itu ke lantai. Aku melirik dari lumatan di dadanya. Yang tinggal hanyalah gundukkan besar dibungkus celana dalam katun coklat. Mungkin sudah dekil. Tetapi tanganku yang tak peduli langsung mengelus, mencemol dan meremas-remas gundukkan besar itu.
Aku terkesima pada hangat dan liatnya gumpalan otot itu. Kontol Kang Saridjo memang luar biasa besar. Aku tak sabar untuk selekasnya menjamahi. Tetapi Kang Saridjo justru meraih mukaku, mengamati. Dari bibirnya yang tebal dengan lingkaran kumisnya yang berantakkan dia berucap, “Achh… Aden cakep banget…”
Dan bibir tebal itu langsung memagut bibirku. Aku menyambutnya dengan penuh nafsu. Aku rasakan duri-duri rambut di dagu dan pipinya menusukki pipiku, bibirku. Aku juga terangsang banget dengan bau keringatnya yang merebak dari tubuhnya. Aku pepetkan tubuhku lebih lengket ke tubuhnya. Aku benamkam mukaku ke mukanya, lehernya. Aku berusaha menghirupi bau tubuh itu.
Semuanya itu seperti simponi birahi. Kenikmatan syahwat melanda dari celah tangan-tanganku yang terus meremas dan membetoti kontolnya, dari mukaku yang tenggelam ke lehernya sambil bibir memagut, dari tubuhku yang lengket keringat dengan tubuhnya. Ahh.. Kang Saridjo.. Kenapa nikmat banget siihh.. Aku melenguh sementara kudengar Kang Saridjo demikian juga. Kini kami sama-sama telah tenggelam dalam syahwat ‘cinta sejenis’.
Untuk lebih leluasa aku giring bergeser menuju tempat tidur. Tepat ditepiannya kudorong tubuhnya hingga terduduk dan kudorong lagi untuk telentang dengan kedua kakinya yang masih menjuntai ke lantai. Aku menindih tubuh kekar itu dan mulutku langsung menjemput mulutnya yang dia sambut pula dengan penuh nafsunya. Dia memeluki tubuhku sambil menggeram-geram lirih melampiaskan desakan birahinya.
Tangan-tanganku tak mau tinggal. Terus meraba-rabai bagian tubuhnya dan merogoh kontolnya di balik celana dalamnya. Genggamanku terasa sangat mantap. Batang gede milik Kang Saridjo terasa berkedut-kedut dan hangat dalam tanganku. Aku meremas-remas pelan penuh perasaanku.
Artikel Terkait
Akhirnya Kang Saridjo sendiri yang mencopot celana dalamnya. Dengan sedikit mengangkat bokong kemudian melipat pahanya dia tarik lepas celana dalam dekil itu. Aku terus memagut dagunya, lehernya, dadanya dan terus turun hingga ke otot-otot perutnya. Bulu-bulu yang melebat terhampar dai bagian depan tubuhnya membuat aku sangat keranjingan. Sedotan dan ciuman bertubi tak putus-putus kulepaskan pada tubuh penuh keringat dan bau lelaki itu.
Kang Saridjo nampak tak mampu menahan kenikmatan yang dia dapatkan. Dia mengaduh-aduh pelahan takut didengar temannya, sambil tangannya mulai mendorong kepalaku agar terus meluncur ke bawah. Aku merasakan dan tahu, dia pengin merasakan betapa mulutku menciumi dan mengulum kontolnya. Acchh.. Kangg.. Jangan khawatir.. Aku siap menjemput batang panasmu.. Lanjut baca!
Tukang Bangunan Jadi Pelampiasn Aku dan Istri 1
Tradingan.com - Kedua orang tuaku ada urusan sama kakek-nenek di Malang. Mereka pergi untuk 3 hari. Kebetulan ada perbaikan AC di ruang tamu dan kamarku. Beberapa orang tukang sibuk melakukan perbaikan. Aku tergoda untuk memperhatikan salah satunya. Namanya Saridjo. Mungkin sekitar 40 tahunan. Nampak ototnya kasar dan gempal, mukanya penuh kumis dan jambang yang tercukur di pipi dan lehernya.
Aku terkesima. Tukang ini sangat seksi di mataku. Sungguh, Kang Saridjo, demikian aku memangilnya, sangat menawan syahwatku. Pada hari pertama mereka mulai kerja aku sempat 2 kali masturbasi. Mengkhayal.. Acchh.. Betapa nikmat kalau aku bisa menjilati tubuh gempal berotot itu.
Siang itu sambil ‘surfing ke situs gay’ di kamarku aku mengawasi mereka kerja.
“Permisi Den, saya mau ukur lubang di dinding untuk pasang kabel,” Kang Saridjo sambil menggotong tangga lipat masuk ke kamarku.
“Silahkan, kang” Aku melihat peluang untuk ngobrol sama Saridjo. Bau badan penuh keringat langsung menyengat di kamarku.
“Dimana mau pasangnya, kang”
“Disitu Den, di atas jendela”
Duh nih orang, keringatnya ngocor dari tubuhnya yang bertelanjang dada. Nampak gumpalan-gumpalan tubuhnya semakin nyata dengan adanya keringat itu. Nampak pentilnya sebedar biji jagung hitam keras di tengah bulatan hitam pula. Aku berliur. Lidahku membasahi bibir. Ingin rasanya menjilati asin keringatnya sambil menggigiti pentil itu.
“Perlu dibantu?” pertanyaanku sambil memegangi tangganya.
“Terima kasih..”
Kini wajahku nanar menyaksikan betisnya yang coklat gelap mengkilat oleh basang keringatnya tepat di depan mukaku. Aku sungguh tak mampu menahan diriku. Betis liat penuh urat dan bulu-bulu itu sangat merangsang syahwatku. Kang Saridjo hanya bercelana kolor seperti pemain bola. Nampak betisnya menopang pahanya yang kekar dan gempal liat pula. Beberapa menit sambil mencoba menangkap bau badannya, aku sempat menggosok-gosok penisku di selangkangan. Aku ngaceng berat. Penisku menonjol mendesaki celanaku. Uch.. Gatelnya..
Artikel Terkait
“Panas ya? Sudah minum belum, kang? Kalau belum boleh aku ambilin, ya..?” aku langsung bergerak mengambil minuman tanpa menungu jawabannya. Kudengar di belakangku dia menyahut, “Nggak usah, den” Tetapi aku pura-pura tak dengar. Aku harus aktip menyerang.
Es sirop dengan gelas besar kusodorkan padanya. Dia terima dan langsung di tenggaknya hingga ludas. Nampak jakunnya naik turun saat minumannya mengalir ke tenggorokannya. Lehernya yang menengadahkan kepalanya nampak kekar. Ah, betapa aku bisa menggigiti tuh otot-ototnya. Lanjut baca!








No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...