Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Goyangan Maut Sinta
Siskaee
2:06 PM
Kisah ini merupakan kisah nyata yang di alamin oleh salah satu pembaca cerita dewasa , nama , tempat itu semua sudah di samarkan.Oleh karena itu cerita sex kali ini sangat mengunggah gairah kita untuk mencoba nya. Ingin tau lebih lanjut silahkan di simak saja Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Goyangan Maut Sinta . Berikut cerita 17+ nya :
Cerita Dewasa Berdasarkan Kisah Nyata Goyangan Maut Sinta
“Masak apa Sin?” kataku sedikit mengejutkan adik iparku, yang saat itu sedang berdiri sambil memotong-motong tempe kesukaanku di meja dapur.
“Ngagetin aja sih, hampir aja kena tangan nih,” katanya sambil menunjuk ibu jarinya dengan pisau yang dipegangnya. “Tapi nggak sampe keiris kan?” tanyaku menggoda.
“Mbak Ratri kemana Mas, kok nggak sama-sama pulangnya?” tanyanya tanpa menolehku.
“Dia lembur, nanti aku jemput habis magrib,” jawabku.
“Kamu nggak ke kampus?” aku balik bertanya.
“Tadi sebentar, tapi nggak jadi kuliah. Jadinya pulang cepat.”
“Aauww,” teriak
Sinta tiba-tiba sambil memegangi salah satu jarinya. Aku langsung menghampirinya, dan kulihat memang ada darah menetes dari jari telunjuk kirinya.
“Sini aku bersihin,” kataku sambil membungkusnya dengan serbet yang aku raih begitu saja dari atas meja makan.
Sinta nampak meringis saat aku menetesinya dengan Betadine, walau lukanya hanya luka irisan kecil saja sebenarnya. Beberapa saat aku menetesi jarinya itu sambil kubersihkan sisa-sisa darahnya. Sinta nampak terlihat canggung saat tanganku terus membelai-belai jarinya.
“Udah ah Mas,” katanya berusaha menarik jarinya dari genggamanku.. Baca selengkapnya...!!!
“Ngagetin aja sih, hampir aja kena tangan nih,” katanya sambil menunjuk ibu jarinya dengan pisau yang dipegangnya. “Tapi nggak sampe keiris kan?” tanyaku menggoda.
“Mbak Ratri kemana Mas, kok nggak sama-sama pulangnya?” tanyanya tanpa menolehku.
“Dia lembur, nanti aku jemput habis magrib,” jawabku.
“Kamu nggak ke kampus?” aku balik bertanya.
“Tadi sebentar, tapi nggak jadi kuliah. Jadinya pulang cepat.”
“Aauww,” teriak
Sinta tiba-tiba sambil memegangi salah satu jarinya. Aku langsung menghampirinya, dan kulihat memang ada darah menetes dari jari telunjuk kirinya.
“Sini aku bersihin,” kataku sambil membungkusnya dengan serbet yang aku raih begitu saja dari atas meja makan.
Sinta nampak meringis saat aku menetesinya dengan Betadine, walau lukanya hanya luka irisan kecil saja sebenarnya. Beberapa saat aku menetesi jarinya itu sambil kubersihkan sisa-sisa darahnya. Sinta nampak terlihat canggung saat tanganku terus membelai-belai jarinya.
“Udah ah Mas,” katanya berusaha menarik jarinya dari genggamanku.. Baca selengkapnya...!!!

No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...